
Jakarta – Kementerian Kesehatan dan World Health Organization (WHO) menyepakati Grant Agreement dan Joint Workplan WHO Biennium 2024-2025. Penandatanganan kerjasama ini dilakukan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Kunta Wibawa Dasa Nugraha dan Perwakilan WHO Indonesia N. Paranietharan di Jakarta pada Rabu (7/2).
Kerja sama ini bertujuan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dijabarkan di dalam Rencana Kerja Bersama Kementerian Kesehatan (Joint Work Plan) dan WHO Indonesia untuk WHO Programme Budget 2024–2025. WHO Indonesia akan menyediakan pendanaan untuk implementasi kegiatan-kegiatan bienium 2024–2025 berdasarkan perjanjian hibah sebesar USD 14,003,191.
Dalam sambutannya Kunta Wibawa menerangkan Indonesia sangat menghargai kemitraan jangka panjang antara Kementerian Kesehatan dan WHO yang telah terjalin sejak tahun 1958. “Penandatanganan perjanjian dua tahun ini tidak hanya menandai kelanjutan kemitraan yang kuat antara kedua belah pihak. Namun juga merupakan kolaborasi yang bermakna untuk mencapai General Programme of Work WHO ke-13, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024, dan khususnya pilar transformasi kesehatan Kementerian Kesehatan,” tuturnya.

Lebih lanjut Kunta menjelaskan berbagai tantangan kesehatan yang masih dihadapi Pemerintah Indonesia. Kunta menyoroti penyakit katastropik yang masih mengakibatkan tingginya angka kematian dan beban keuangan, yaitu stroke, penyakit jantung, kanker, dan penyakit ginjal.
“Mencapai transformasi kesehatan bukanlah hal yang mudah. Indonesia perlu bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan, terutama WHO, untuk mencapai tujuan bersama. Penandatanganan kesepakatan dan rencana kerja bersama ini diharapkan dapat memberikan dorongan yang diperlukan untuk mencapai apa yang kita cita-citakan bersama,” ujar Kunta menutup sambutannya.
Pada kesempatan ini Paranie menyampaikan salah satu masalah yang dihadapi negara ketiga adalah pendanaan kesehatan. Menurutnya Indonesia mampu menyelesaikan masalah ini melalui program pilar kesehatan. “Pelan tapi pasti, permasalahan kesehatan dapat teratasi dengan adanya Kerjasama dari semua pihak,” jelasnya.
Paranie menyebut sebagian besar orang, mencapai 99% berhasil melewati penderitaan akibat pandemi. Satu persen tetaplah angka yang besar. Paranie berharap target program kesehatan global dapat tercapai dengan optimal. Selain itu, kemitraan WHO dengan Indonesia dapat membantu lebih banyak orang untuk menjalani kehidupan setelah pandemi.
(Penulis Dian W/Edit Timker HDI)